|
| HIDUP ADALAH PILIHAN |
| 20 April 2009 |
 Ada sebuah kisah menarik yang bisa di jadikanpelajaran dalam hidup ini. pada zaman dahulu di sebuah negeri ada seorang tua yang terkenal akan kepandaian dan kebijaksanaannya. Hampir di seluruh negeri orang mengenalnya. Dialah tempat ber konsultasi dan di mintai pendapat. Suatu hari ada seorang anak kecil yang datang kepadanya untuk bertanya kepada orang bijak tersebut. Anak tersebut datang dengan membawa seekor anak ayam yang di sembunyikan di balik badannya. Kemudian anak kecil tersebut langsung bertanya kepada orang bijak tersebut. ”Wahai orang tua yang bijak ! tahukah kamu apakah anak ayam yang aku bawa ini dalam keadaan hidup atau mati ?”. Sejenak orang tua tersebut terdiam dan merenung , kemudian ia berkata,” wahai anak kecil , sesungguhnya mati dan hidupnya anak ayam ini tergantung kamu nak! Karena kalau saya katakan anak ayam ini hidup maka secepat kilat engkau akan mematahkan leher anak ayam tersebut. Tapi jika saya katakan mati maka engkau akan biarkan anak ayam itu dalam keadaan hidup dan memberikan nya kepada saya. Jadi hidup dan matinya anak ayam tersebut tergantung dirimu nak !” Demikian jawaban dari orang tua yang bijaksana tersebut.
Pelajaran dari kisah di atas antara lain, baik buruknya diri kita adalah tergantung atas keputusan yang diambil. Kita sendirilah yang menentukan sukses tidaknya hidup ini.
Untuk di renungkan Setiap hari kita selalu hidup dalam pilihan Pagi saat sarapan, memilih baju, memilih kendaraan yang membawa kita ke kantor, Pilihan pekerjaan yang harus segera diselesaikan.. Dan terus dan terus Dalam rutinitas yang tak pernah berakhir. Semua..itu tersaji di hadapan kita.. Layaknya film panjang.. Yang jadi sutradara, ya kita, Yang jadi penulis naskah ya kita juga Yang jadi aktor utama..siapa lagi? Mau jadi.. penjahat atau orang baik, orang sukses atau gagal, orang yang biasa-biasa aja atau yang gak biasa semua bisa kita mainkan semua bisa kita bangun ceritanya Kita juga bisa bikin endingnya.. Pilihan.. Hanya kalimat yang terdiri dari 3 suku kata! Seberapa pentingkah? Seberapa besarkah pengaruhnya? Bisakah mengubah nasib seseorang? Bagaimana kalo kita tidak mau memilih Bisakah?! Bisakah kita diberi sesuatu yang pasti Yang membuat kita tidak harus memilih.
Setiap manusia menginginkan kebahagiaan dalam hidup ini, termasuk penyelesaian berbagai masalah yang dihadapinya. . Akan tetapi untuk mencapai itu semua tidak mudah. Allah SWT akan memberikan ujian kepada seluruh umat manusia, sebagai konsekwensi penciptaannya. Adakalanya manusia berhasil dalam menghadapi ujian hidup tapi ada pula diantara mereka yang gagal dalam menghadapi cobaan hidup ini. Diantara ujian yang Allah berikan kepada manusia adalah adanya pilihan pilihan di dalam menjalani hidup ini. Di dalam Q.S 91 : 8 :10 surat Asy -Syam Allah berfirman ”Maka Allah ilhamkan kepada manusia jalan keburukan dan jalan ketaqwaan, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mengambil jalan taqwa( mensucikan jiwa) dan merugilah orang yang mengambil jalan keburukan ( mengotorinya )”. Disinilah manusia diberikan kebebasan untuk memilih apakah menjadi manusia bertaqwa atau manusia yang sesat . Allah swt memberikan kebebasan setiap manusia untuk menjalani hidup ini. Apakah mereka menjadi orang yang beriman kepadanya atau sebaliknya. Ini adalah salah satu contoh dari berbagai pilihan hidup. Didalam keseharian kita sering menemukan banyak pilihan dan ini adalah sebuah permasalahan jika kita sulit untuk mengambil keputusan atas pilihan tersebut. Misalnya seseorang yang akan memilih dan menentukan pasangan hidupnya, susah memilih jurusan dan kampus yang sesuai untuk meneruskan pendidikan, atau susah mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kemampuan.
Keputusan yang diambil sangat tergantung dengan kondisi dan keadaan lingkungan. Karena boleh jadi apa yang kita pilih tidak hanya berdampak kepada diri kita sendiri tetapi juga akan berdampak kepada orang lain. Misalkan keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin yang salah maka bisa berakibat buruk terhadap anak buahnya. Seorang direktur yang salah mengambil keputusan bisa membuat perusahan dan karyawannya berantakan. Bahkan keputusan yang salah yang diambil oleh seortang Presiden sebagai Kepala Negara bisa menyebabkan kesengsaraan bagi rakyat dan masyarakatnya. Itulah resiko atas keputusan yang telah diambil.
Setiap orang harus berani mengambil resiko atas keputusan yang diambilnya. Adakalanya keputusan tersebut berat adakalanya ringan. Maka dari itu kemampuan didalam mengambil keputusan adalah hal yang paling penting didalam menyelesaikan masalah. Keputusan adalah penilaian atau pilihan antara dua hal atau lebih yang timbul dalam berbagai situasi , dari pemecahan masalah sampai implementasi tindakan. Allah swt memberikan kepada manusia berbagai macam kelebihan berupa potensi yang seharusnya dapat di gunakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Di antara potensi yang di miliki oleh manusia adalah potensi akal pikiran. Dengan akal inilah seharusnya kita dapat menganalisa dan mempertimbangkan terlebih dahulu atas keputusan yang diambilnya. Sering kali terjadi sebaliknya, manusia tidak menggunakan akal dan fikirannya dalam mentukan pilihan yang ada sehingga keputusan terlihat tidak rasional dan bertentangan dengan keadaan lingkungan. . Diantara mereka ada yang hanya menggunakan emosi dan perasaan bahkan hanya mengandalkan hawa nafsu dalam mengambil keputusan.
Ada beberapa kiat agar kita tidak salah dalam mengambil keputusan. 1. Berhubungan dengan Diri sendiri a. Memahami permasalahan dan pilihan yang ada b. Menganalisa dan mempertimbangkan baik buruknya, untung rugi atas beberapa pilihan yang ada. c. Membuat skala prioritas d. Disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki e. Belajar dari pengalaman kita sebelumnya. 2. Berhubungan dengan Orang Lain : a. Meminta pendapat , masukan dan pertimbangan dari orang lain b. Tidak merugikan dan menggangu orang lain atas keputusan yang kita ambil c. Keputusan yang kita ambil dapat bermanfaat tidak hanya untuk diri kita tapi juga ber manfaat bagi orang lain. d. Belajar dari orang lain atas keputusan yang pernah diambil sebelumnya 3. Berhubungan dengan Allah Swt : a. Berdoa sebelum dan sesudah mengambil keputusan b. Bertawakal dan berserah diri kepada Allah c. Menerima dengan ikhlas atas hasil keputusan yang telah kita ambil
Kualitas diri kita 5 tahun kedepan dapat di lihat dari beberapa hal dan ini berhubungan dengan pilihan dan keputusan yang kita ambil Apa yang kita baca hari ini Apa yang kita kerjakan hari ini Dengan siapa kita bergaul apa yang kita tonton hari ini Bagaimana kita menyelesaikan masalah yang kita hadapi Sebagai bahan renungan untuk diri kita adalah berkaitan dengan yang telah ada dalam diri kita : 1. Karakter dan kepribadian diri . Setiap kita memiliki kepribadian berbeda. Masa depan kita sangat di tentukan oleh watak dan karakter kita. Apakah kita sudah memiliki kepribadian yang kuat atau sebaliknya. Kita lah yang lebih tahu. 2. Ilmu dan pemahaman . Setiap diri kita memiliki ilmu dan pemahaman yang berbeda. Tergantung dari apa yang kita pelajari , apa yang kita baca. Apa yang kita jadikan pelajaran. Amal yang kita lakukan akan bermakna kalau di barengi dengan pemahaman dan ilmu yang sesuai dan benar 3. Amal sholeh atau amal buruk . Pada usia kita saat ini mana yang paling banyak kita lakukan. Apakah amal kebaikan atau amal keburukan. Kita lah yang paling tahu. Setiap amal akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang kita lakukan. 4. Pemanfaatan waktu hidup dan waktui luang. Ada manusia yang lupa akan tujuan hidupnya. Sehingga ia lalai dan tidak bisa memanfaat kan waktu yang diberikan. Waktu yang berjalan terbuang percuma, tidak bermanfaat dan apyang dikerjakan sia sia. Apakah ini cerminan diri kita ? 5. Hasil karya untuk orang lain. Sebaik baik manusia adalah mereka yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Apakah dalam usia kita saat ini sudah ada hasil karya yang dapat di manfaat kan oleh orang lain ?. atau kah kita sibuk dengan urusan diri sendiri. ?.
Sumber=trustco.or.id
Label: wawasan rohani
Lebih lengkap........
|
posted by kang soem @ 18.52   |
|
|
|
| GUSTI ALLAH TIDAK Ndeso |
| 18 April 2009 |
 "Ndeso"... kalimat yang diartikan lebih mengarah kepada suatu keadaan yang tidak modern, tidak fleksibel, kampungan atau kalimat-kalimat lain yang lebih cocok diucapkan oleh Tukul "Renaldi" Arwana.
Tapi kalimat ini pernah diucapkan oleh Emha Ainun Najib, seorang budayawan, intelektual yang mengusung nafas islami. Sebagian orang, juga mengangapnya sebagai kyai nyentrik karena pemikiran dan ceramahnya yang kadang tidak biasa dilakukan oleh pemuka agama.
Sebagai mantan santri yang pernah diusir dari Pondok Modern Gontor Ponorogo dan berbekal pengetahuan dari mengikuti lokakarya-lokakarya di manca negara, Kyai nyentrik ini juga aktif dalam komunitas Masyarakat Padhang mBulan serta keliling nusantara (wikipedia)
Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun :
"Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.
"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi."
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
Kata Tuhan:
Kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.
Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.
Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.
Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.
Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.
Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak- injaknya.
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.
Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama.
Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial.
Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.
Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama.
Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas).
Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
sumber=MyOpera.com
Label: wawasan rohani
Lebih lengkap........
|
posted by kang soem @ 09.21   |
|
|
|
| CATATAN RINGAN SEORANG KAWAN : MAS GAW |
| 06 April 2009 |
Hidup ini terasa indah jika kita bisa saling mengingatkan, saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Lebih indah lagi, jika dilengkapi dengan saling mendoakan. Keindahan hidup seperti ini yang masih bisa kita rasakan selagi tetap memiliki sahabat maupun saudara. Sahabat dan saudara yang tak segan-segan melafazkan doa di hadapan kita atau mengirimkannya tanpa sepengetahuan kita, diucapkan dalam barisan panjang doanya setiap usai sholat.
Harus saya syukuri, betapa diri ini menyadari bahwa dalam perjalanan panjang hidup ini teramat banyak orang-orang yang tulus berdoa untuk kebaikan, keselamatan, juga keberkahan saya dan keluarga. Misalnya beberapa tahun lalu ketika kami masih menyewa sebuah rumah petak di Bogor dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, mulai dari ibu, adik, kakak, dan sahabat yang pernah singgah berucap kalimat yang sama, “semoga cepat punya rumah yang layak ya…”
Ketika itu, saya tidak pernah malu untuk mengajak dan menawarkan siapapun untuk singgah ke rumah ‘kontrakan’. Hanya karena rumah kami kurang layak, bukan berarti menghalangi niat baik untuk menyambung silaturahim. Meski saya tidak meminta, mereka tetap mendoakan untuk kehidupan yang lebih baik bagi keluarga saya. Dan mungkin atas doa mereka jugalah, kini saya dan keluarga sudah bisa menikmati tinggal di rumah sendiri.
Cerita lain ketika saya sering mengajak isteri dan anak-anak jalan-jalan. Suatu hari kami bertemu dengan seorang sahabat di sebuah angkutan umum dan dia bertanya, “ biasanya pakai motor, motornya kemana?”. Obrolan pun berlanjut ke hal lain, karena ia sudah mendapatkan jawaban dari saya soal motor itu. Menjelang berpisah, tak lupa ia menitipkan satu kalimat yang saya anggap itu sebagai doa, “mudah-mudahan ada gantinya ya”.
Segera saya mengamini kalimat sahabat saya itu. Puji syukur kepada Allah bahwa kemudian Allah memberi lagi saya kesempatan untuk memiliki sepeda motor walau harus mencicilnya selama tiga tahun. Setidaknya saya semakin sadar, bahwa saya harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan. Boleh jadi juga, doa sahabat-sahabat lah yang Allah kabulkan sehingga saya kembali mengantar anak-anak ke sekolah atau mengunjungi orang tua dengan bersepeda motor.
Nah, giliran sudah punya motor, sudah punya rumah, alhamdulillah tetap saja ada yang masih mendoakan kami. Tentu saja dengan cara-cara yang berbeda. Misalnya saja, seorang sahabat yang singgah di rumah saya di Sawangan belum lama ini, berkomentar “Kapan dikasih pagar nih rumahnya?” atau ketika puteri ketiga saya lahir, “Wah, puterinya sudah bertambah, berarti mesti bikin kamar lagi nih di lantai atas…”
Saya selalu menilai positif kalimat-kalimat penuh makna persahabatan itu dan menganggapnya sebagai doa. Begitu juga ketika para tetangga melihat motor kesayangan kami ditumpangi lima orang, saya, isteri, dan tiga puteri saya, mereka berujar, “Sudah harus ganti roda empat tuh…”
Di jalan raya pun demikian. Setiap kami menunggangi motor berlima dan berhenti di lampu lalu lintas, entah itu perjalanan ke Bogor maupun ke Tangerang selalu ada orang yang menyapa, “Masya Allah pak… hati-hati ya bawa motornya. Mudah-mudahan cepat punya mobil ya…”, ini masih lebih enak terdengar. Ada yang begini, “Ya Allah, kurang banyak pak bawaannya…”
Saya sempatkan untuk tersenyum kepada mereka, dan berujar, “amiin, terima kasih doanya ya. Alhamdulillah saya masih punya motor, sementara saya nikmati saja dulu…”. Tak sedikipun saya tersinggung dengan segala ucapan mereka di jalan raya, toh sebaliknya saya pikir itu doa dan saya berterima kasih. “tinggal mengamini saja kok repot…”
Sekali lagi, saya benar-benar menyadari dan yakin bahwa satu dari sekian banyak rasa anugerah yang wajib kita syukuri adalah lantaran hidup kita ini dikelilingi oleh doa. Doa orang tua, keluarga, para sahabat bahkan orang-orang yang tidak kita kenal secara langsung. Lantas, kenapa masih murung dan berputus asa? (gaw)
Label: wawasan rohani
Lebih lengkap........
|
posted by kang soem @ 09.06   |
|
|
|
| Kenapa Kau Tuntut Tuhanmu? |
| 31 Maret 2009 |
Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary “Janganlah kau tuntut Tuhanmu karena tertundanya keinginanmu, tetapi tuntutlah dirimu sendiri karena engkau telah menunda adabmu kepada Allah.”
Betapa banyak orang menuntut Allah, karena selama ini ia merasa telah berbuat banyak, telah melakukan ibadah, telah berdoa dan berjuang habis-habisan.
Tuntutan demikian karena seseorang merasa telah berbuat, dan merasa perlu ganti rugi dari Allah Ta’ala. Padahal meminta ganti rugi atas amal perbuatan kita, adalah wujud ketidak ikhlasan kita dalam melakukan perbuatan itu. Manusia yang ikhlas pasti tidak ingin ganti rugi, upah, pahala dan sebagainya. Manusia yang ikhlas hanya menginginkan Allah yang dicinta. Pada saat yang sama jika masih menuntut keinginan agar disegerakan, itu pertanda seseorang tidak memiliki adab dengan Allah Ta’ala.
Sudah sewajarnya jika kita menuntut diri kita sendiri, karena Allah tidak pernah mengkhianati janjiNya, tidak pernah mendzalimi hambaNya, dan semua janjinya tidak pernah meleset. Kita sendiri yang tidak tahu diri sehingga, kita mulai intervensi soal waktu, tempat dan wujud yang kita inginkan. Padahal itu semua adalah Pekerjaan Allah dan urusanNya.
Orang yang terus menerus menuntut dirinya sendiri untuk Tuhannya, apalagi menuntut adab dirinya agar serasi dengan Allah Ta’ala, adalah kelaziman dan keniscayaan. Disamping seseorang telah menjalankan ubudiyah atau kehambaan, maka si hamba menuruti perilaku adab di hadapanNya, bahwa salah satu adabn prinsipalnya adalah dirinya semata untuk Allah Ta’ala.
Karena itu Ibnu Athaillah melanjutkan: “ Ketika Allah menjadikanmu sangat sibuk dengan upaya menjalankan perintah-perintahNya dan Dia memberikan rezeki, rasa pasrah total atas Karsa-paksaNya, maka sesungguhnya saat itulah betapa agung anugerahNya kepadamu.”
Anugerah paling agung adalah rezeki rasa pasrah total atas takdirNya yang pedih, sementara anda terus menerus menjalankan perintah-perintahNya dengan konsisten, tanpa tergoyahkan. Wahb ra, mengatakan, “Aku pernah membaca di sebagian Kitab-kitab Allah terdahulu, dimana Allah Ta’ala berfirman: “Hai hambaKu, taatlah kepadaKu atas apa yang Aku perintahkan kepadamu, dan jangan ajari Aku bagaimana Aku berbuat baik kepadamu.
Aku senantiasa memuliakan orang yang memuliakan Aku, dan menghina orang yang menghina perintahKu. Aku tak pernah memandang hak hamba, sehingga hamba memandang (memperhatikan) hakKu.”
Syeikh Abu Muhammad bin Abdul Aziz al-Mahdawi ra, mengatakan, “Siapa pun yang dalam doanya tidak menyerahkan dan merelakan pilihannya kepada Allah Ta’ala, maka si hamba tadi terkena Istidroj dan tertipu. Berarti ia tergolong orang yang disebut dengan kata-kata, “Laksanakan hajatnya, karena Aku sangat tidak suka mendengarkan suaranya.”. Namun jika ia menyerahkan pilihannya pada Allah Ta’ala, hakikatnya ia telah diijabahi walau pun belum diberi. Amal kebaikan itu dinilai di akhirnya…”
sumber: sufinews
Label: wawasan rohani
Lebih lengkap........
|
posted by kang soem @ 01.26   |
|
|
|
| Kun Fayakuun Ustadz Yusuf Mansur |
|
Film Kun Fayakuun mengajarkan sederhana kepada penontonnya tentang Kekuatan Do'a. Kekuatan percaya pada Allah. Kekuatan pasrah pada Kehendak-Nya. Dan semua itu memotivasi banyak orang
Hari gini, banyak yang berputus asa. Atau sedikitnya, berkurang imannya kepada Allah. Banyak yang tidak percaya bahwa ia bisa berhasil. Tidaklah sedikit yang percaya bahwa nasib buruk akan menimpanya. Atau, tidak mau meyakini bahwa pertolongan Allah itu bakal datang. Sebagiannya hanya mau percaya bahwa hidupnya ya gitu-gitu aja. Ga akan ada perubahan, sbb otaknya mengatakan ia tidak mungkin berubah. Tanya saja kepada seorang pegawai yang gajinya kurang. Ia akan memandang segala kekurangannya, dan kekalahannya setiap bulan secara keuangan. Tanya juga para pedagang yang kekurangan modal. Baginya, ia bakalan punya keuntungan berlipat-lipat kalau ia bisa memiliki modal tambahan yang berlipat-lipat. Tanya pula mereka yang memiliki hutang segunung, sedangkan pekerjaan dan usaha sdh tidak ada. Apalagi kalau kemudian peluang dan kesempatan juga terasa gelap baginya. Maka, hutang itu katanya tidak akan pernah terbayarkan. Tanya pula kepada mereka yang terkena kanker, atau anggauta keluarganya ada yang kena penyakit kronis, menahun. Ia akan lihat kematian yang cepatlah jawaban yang tepat. Kun Fayakuun, ia saya suarakan agar diri ini tidak melemah. Tidak jatuh dlm keputusasaan. Tidak larut dalam kesedihan. Dan yang lbh penting lagi, tumbuh kemudian keinginan tuk berubah, dan percaya bahwa segalanya masih mungkin, sebab tuhannya adalah Allah Yang Maha Kuasa. Kun Fayakuun.
Yusuf MansurLabel: wawasan rohani
Lebih lengkap........
|
posted by kang soem @ 01.10   |
|
|
|
| Sang Pemimpin |
| 23 September 2008 |
Oleh: A. Mustofa Bisri Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut dan berusaha melepaskan diri, katanya: “Lepaskan aku! Siapa ini?” Orang yang memeluknya tidak melepaskannya justru berteriak: “Siapa mau membeli budak saya ini?” Begitu mendengar suaranya, Zahir pun sadar siapa orang yang mengejutkannya itu. Ia pun malah merapatkan punggungnya ke dada orang yang memeluknya, sebelum kemudian mencium tangannya. Lalu katanya riang: “Lihatlah, ya Rasulullah, ternyata saya tidak laku dijual.” “Tidak, Zahir, di sisi Allah hargamu sangat tinggi;” sahut lelaki yang memeluk dan ‘menawarkan’ dirinya seolah budak itu yang ternyata tidak lain adalah Rasulullah, Muhammad SAW. Zahir Ibn Haram dari suku Asyja’, adalah satu di antara sekian banyak orang dusun yang sering datang berkunjung ke Madinah, sowan menghadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tentang Zahir ini, Rasulullah SAW pernah bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya, “Zahir adalah orang-dusun kita dan kita adalah orang-orang-kota dia.” *** Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda akan sulit membayangkannya bercanda di pasar dengan salah seorang rakyatnya seperti kisah yang saya tuturkan (berdasarkan beberapa kitab hadis dan kitab biografi para sahabat, Asad al-ghaabah- nya Ibn al-Atsier ) di atas. Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh --tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden—bupati Anda? Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu. Sekarang pengandaianya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda ‘sampai hati’ bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu? Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia. *** Kharqaa’, perempuan berkulit hitam itu entah dari mana asalnya. Orang hanya tahu bahwa ia seorang perempuan tua yang sehari-hari menyapu mesjid dan membuang sampah. Seperti galibnya tukang sapu, tak banyak orang yang memperhatikannya. Sampai suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW tiba-tiba bertanya kepada para sahabatnya, “Aku kok sudah lama tidak melihat Kharqaa’; kemana gerangan perempuan itu?” Seperti kaget beberapa sahabat menjawab: “Lho, Kharqaa’ sudah sebulan yang lalu meninggal, ya Rasulullah.” Boleh jadi para sahabat menganggap kematian Kharqaa’ tidak begitu penting hingga perlu memberitahukannya ’ kepada Rasulullah SAW. Tapi ternyata Rasulullah SAW dengan nada menyesali, bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? Tunjukkan aku dimana dia dikuburkan?”. Orang-orang pun menunjukkan kuburnya dan sang pemimpin agung pun bersembahyang di atasnya, mendoakan perempuan tukang sapu itu. *** Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda pasti akan sulit membayangkan bagaimana pemimpin seagung beliau, masih memiliki perhatian yang begitu besar terhadap tukang sapu, seperti kisah nyata yang saya ceritakan (berdasarkan beberapa hadis sahih) di atas. Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Urusan-urusan besar tidak mampu membuatnya kehilangan perhatian terhadap rakyatnya, yang paling jembel sekalipun. *** Anas Ibn Malik yang sejak kecil mengabdikan diri sebagai pelayan Rasulullah SAW bercerita: “Lebih Sembilan tahun aku menjadi pelayan Rasulullah SAW dan selama itu, bila aku melakukan sesuatu, tidak pernah beliau bersabda, ‘Mengapa kau lakukan itu?’ Tidak pernah beliau mencelaku.” “Pernah, ketika aku masih kanak-kanak, diutus Rasulullah SAW untuk sesuatu urusan;” cerita Anas lagi, “Meski dalam hati aku berniat pergi melaksanakan perintah beliau, tapi aku berkata, ‘Aku tidak akan pergi.’ Aku keluar rumah hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang dan bersabda sambil tertawa, ‘Hai Anas kecil, kau akan pergi melaksanakan perintahku?’ Aku pun buru-buru menjawab, ‘Ya, ya, ya Rasulullah, saya pergi.’” Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, dapatkah Anda membayangkan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap abdi kecilnya? Tapi pasti Anda dapat dengan mudah membayangkan betapa besar kecintaan dan hormat si abdi kepada ‘majikan’nya itu. Waba’du; apakah saya sudah cukup bercerita tentang Nabi Muhammad SAW, sang pemimpin teladan yang luar biasa itu? Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salamNya kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, dan kita semua umat beliau ini. Amin. Label: wawasan rohani
Lebih lengkap........
|
posted by kang soem @ 10.10   |
|
|
|
|
| KANGSOEM |
|

|
| ARTIKEL |
|
| SIMPANAN |
|
|
| Powered by |

 |
|
|
|