KangSoem.blogspot

TERIAKAN DI BELANTARA HAMPA

TRANSLATOR
English French German Spain Italian

Dutch Russian Portuguese Japanese Korean

Arabic Chinese Simplified
LABEL
> Technorati Profile
> SOSIAL
> HUMAS
> PENYEJUK IMAN
> PENGETAHUAN
BLOGROLL
TIP'S BLOGGER



VIDEO PILIHAN
PENDIDIKAN GRATIS GERINDRA
TRAGEDI QUEN DAY BELANDA
HEBATNYA PONARI
LINK KANGSOEM
- ABANG ANDI
- FREEWEB MASUKISWAY
- BELGEDES
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Subscribe in NewsGator Online


Powered by  MyPagerank.Net
MENJADI PEMIMPIN YANG IDEAL
21 April 2009

Menuju Kepemimpinan yang Sukses
Oleh C.A. ARIYANTI, P.S., S.Pd., M.H.

BERANGKAT dari mana pun, seorang pemimpin akan sukses apabila mampu bekerja sama dengan orang lain, dapat menerima saran & pendapat dari orang lain, mengolah pendapat tersebut menjadi sesuatu yang berharga. Mampu membawa organisasinya ke arah yang lebih baik dan lebih maju dengan tetap melibatkan semua unsur di dalam organisasi tersebut.

Pemimpin bukanlah sekadar seseorang yang dicintai atau dikagumi, melainkan seseorang yang mempunyai pengikut dan mampu mengerjakan dengan benar (do the right things). "Pemimpin bukanlah hanya gelar ataupun uang, melainkan memiliki rasa tanggung jawab yang harus dipikul di pundaknya dan membawa ke tingkat keberhasilan maksimal jadi pemimpin harus profesional.

Hanya ada tiga jenis pemimpin:
* Pemimpin yang cepat
* Pemimpin yang lambat
* Pemimpin yang berjalan di tempat.

Dari ketiga jenis tersebut yang, akan sukses adalah pemimpin yang cepat. Cepat dalam mengolah suatu ide menjadi lebih berharga, cepat dalam pengambilan keputusan yang tepat, cepat menyesuaikan dengan perubahan, serta cepat dalam bekerja dan menggerakan sumber daya manusianya.

Karakteristik pemimpin
Untuk mencapai kepemimpinan yang sukses, seorang dituntut memiliki karakteristik-karakteristik khusus. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Santa Clara University dan Tom Peters Group/Learning System terhadap lebih dari 5.000 pimpinan senior, setidaknya ada 11 karakteristik yang harus dimiliki pemimpin agar sukses dalam kepemimpinannya.

1. Jujur (honest)
Ditempatkan pada urutan pertama karakteristik pemimpin, kejujuran harus melekat erat pada diri seorang pemimpin karena jabatan itu adalah kepercayaan. Ketidakjujuran ibarat racun dalam tubuh manusia yang semakin lama menumpuk dan akan menimbulkan penyakit serta kerusakan tubuh. Begitupun di dalam tubuh organisasi kerja, ada salah satu anggota yang tidak jujur lambat laun organisasi itu akan hancur. Apalagi ketidakjujuran itu dilakukan pemimpinnya pasti akan mengalir kepada anggota, seperti air kotor di hulu pastilah di hilirnya akan semakin kotor. Ketidakjujuran akan menimbulkan rasa saling curiga antaranggota maupun dengan pemimpinnya, dan saling curiga akan menyebabkan kerja sama dalam organisasi tidak harmonis. Sebaliknya, pemimpin yang jujur akan menjadi teladan anggotanya dan akan menjadi inspirasi kerja tim yang padu menuju kesuksesan organisasi. Jadi para pemimpin harus selalu menggunakan "kompas" moral untuk navigasi organisasi dalam pengambilan keputusan dan menjalankan organisasinya.

2. Pandai, cerdas (intelligent)
Sebagai pimpinan akan menjadi panutan dan acuan bagi anggotanya sehingga harus memiliki pemikiran yang lebih maju dari anggotanya. Kecerdasan intelektual harus ditunjang pula dengan kecerdasan emosional dan kecedasan spiritual sehingga pemimpin selain akan mampu mengorganisasi, juga mampu menghadapi dan memecahkan masalah yang timbul, serta keputusan dan kebijakan yang diambil akan sangat berkualitas.

3. Melihat ke depan (forward-looking)
Seorang pemimpin harus selalu melihat ke depan dalam arti selalu harus mencari inovasi-inovasi baru sesuai dengan perkembangan. Bukan berarti juga harus melupakan yang telah lewat karena itu menjadi pengalaman dan pembelajaran bagi kinerja ke depan, melihat ke depan adalah salah satu faktor penunjang sebagai pemimpin yang cepat. Organisasi yang dikelola dengan mengacu pada keadaan saat ini tanpa melihat ke depan akan jalan di tempat dan ketinggalan. Pemimpin dengan pandangan dan orientasi ke depan akan mampu menggerakkan anggotanya menjadi sebuah mesin kerja yang efisien, efektif, dan inovatif.

4. Selalu memicu inspirasi (inspiring)
Sebagai motor penggerak, pemimpin harus mampu menjadi pemicu untuk menggerakkan potensi SDM yang ada menjadi suatu hasil yang bermanfaat. Pemimpin harus mampu memunculkan ide-ide baru dan mampu menggerakkan anggotanya untuk selalu mencari ide kreatif bagi kemajuan lembaga atau organisasi kerjanya. Dalam konteks ini, pemimpin dapat menggerakkan anggotanya atau masyarakatnya untuk selalu belajar karena dengan banyak belajar akan memunculkan inovasi atau ide baru. Suatu organisasi, lembaga, atau perusahaan yang dikelola dengan ide-ide baru akan selalu berkembang, tidak monoton, dan tidak pula statis. Ide atau inovasi baru tetap harus mengacu pada potensi yang dimiliki organisasi tersebut. Sebaliknya, pemimpin yang hanya terpaku pada kinerja saat ini tanpa mencari ide baru maka sudah pasti organisasi yang dipimpin akan jalan di tempat.

5. Kompeten (competent)
Kompeten adalah penggabungan antara kemampuan dan kemauan. Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan secara teori, kecakapan dalam kerja sesuai organisasi yang ditanganinya dan wawasan luas teori/praktik serta kemauan untuk merealisasikan dalam kerja nyata. Seorang pemimpin harus mampu memahami seluruh isi dan lingkup organisasi yang dipimpinnya seperti dia memahami dirinya. Pemimpin harus mampu "bertanya, belajar, dan menindaklanjuti". Bertanya untuk mendapatkan umpan balik dan mendapatkan ide-ide baru, kemudian belajar mendengarkan dengan efektif dan melakukan refleksi dari hasil bertanya tersebut. Dari hasil bertanya dan belajar, ditindaklanjuti dengan kerja dan menghasilkan karya dan kemajuan bagi organisasinya.

6. Berlaku adil (fairminded)
Kata adil sangat mudah diucapkan dan didengungkan, tetapi sangat sulit dalam penerapannya. Sebagai pemimpin yang membawahi banyak anggota atau masyarakat akan sangat sulit untuk menerapkan keadilan bagi semuanya. Kepemimpinannya tidak boleh condong pada golongannya. Adil tidak harus sama rata, tetapi tetap sesuai porsinya masing-masing. Penentuan kebijakan serta pengambilan keputusan dan hukum yang diterapkan harus objektif. Pertentangan, keributan, dan permusuhan antaranggota kelompok atau masyarakat lebih banyak diakibatkan ketidakadilan pemimpinnya.

7. Berwawasan luas (broadminded)
Sebagai pusat informasi dan sebagai pusat pemecahan masalah, seorang pemimpin harus memiliki wawasan yang luas. Organisasi yang dikelola harus selalu mengikuti perkembangan zaman sehingga pemimpin harus selalu menggali informasi, harus selalu belajar agar wawasannya semakin luas. Wawasannya haruslah diinformasikan kepada anggotanya agak kinerja organisasi semakin cepat. Ilmu pengetahuan dan teknologi akan selalu berkembang pesat. Apabila seorang pemimpin tidak memiliki wawasan yang luas, akan selalu tertinggal. Perkembangan ilmu dan teknologi harus selalu diterapkan pada organisasinya.

8. Berani mengambil risiko (courageous)
Sebagai pucuk pimpinan pengambilan keputusan, kebijakan serta penegakan peraturan akan dibebankan di pundaknya. Menjadi pemimpin adalah jabatan yang tidak selamanya akan digenggam, tetapi pada saatnya akan dilepaskan. Seorang pemimpin tidak boleh ragu-ragu dan takut mengambil keputusan karena itu menjadi risiko jabatan dan kepercayaan yang diembannya. Sikap ragu-ragu akan menyebabkan kapal organisasinya semakin terombang-ambing oleh gelombang dan akan semakin mendekati kehancuran. Apabila seorang pemimpin selalu berpegang pada kejujuran dan keadilan, tidak akan pernah ada kata ragu dalam menjalankan kepemimpinannya. Pemimpin yang cerdas serta berwawasan luas maka risiko yang dihadapi dari keputusan yang diambil akan rendah.

9. Tidak basa-basi, langsung pada persoalan (straightforward)
Sikap tegas yang didasari kejujuran dan tidak ragu-ragu akan membawa ke arah kepemimpinan yang efisien dan efektif. Sikap basa-basi akan banyak membuang waktu dan akan menimbulkan kebingungan anggotanya atau masyarakatnya. Setiap permasalahan dan setiap tujuan yang ditangani dengan cepat maka perjalanan organisasi juga cepat berkembang. Basa-basi memang kadang diperlukan, tetapi kalau menjadi gaya kepemimpinannya akan membosankan dan cepat ditinggal anggotanya. Jadi pemimpin harus selalu bekerja cepat, tepat dengan hasil yang hebat.

10. Penuh imajinasi (imaginative)
Daya imajinasi bukanlah sekadar hayalan belaka, tetapi imajinasi yang dapat dikembangkan menjadi hal yang bermanfaat. Seorang pemimpin sebagai nakhoda harus selalu berimajinasi mengenai organisasinya ke depan. Berimajinasi untuk mengembangkan usahanya akan menjadi pendorong pemimpin dalam menggerakan anggotanya untuk lebih kreatif dan inovatif. Imajinasi akan berubah menjadi inovasi-inovasi baru dan manfaat-manfaat baru.

11. Pandai mendelegasi dan memotivasi SDM
Pemimpin harus mempunyai kemampuan mendelegasikan dan memotivasi sumber daya manusianya.
Setiap pribadi adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Apabila setiap pribadi sebagai pemimpin memiliki dan menerapkan sebelas karakteristik tersebut, pasti akan dapat menjalankan kepemimpinannya dengan efektif dan berwibawa.

Sumber=irfunk’s site

Label:


Lebih lengkap........
posted by kang soem @ 10.17   0 comments
ANDA KARYAWAN YANG LOYAL....?

Seorang karyawan akan bersikap loyal dan berusaha memberikan hasil kerjanya yang terbaik untuk perusahaan apabila kebutuhan–kebutuhannya telah terpenuhi. Adapun hierarki kebutuhan manusia sebagai seorang karyawan adalah sbb.

1.Kebutuhan fisiologis (mendasar) –merupakan kebutuhan karyawan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk menafkahi dirinya secara fisik.
Maksudnya, seorang karyawan membutuhkan gaji/ upah dari pekerjaannya untuk membiayai kebutuhan dasar hidupnya, seperti kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat tinggal, dll. Apabila dengan gaji yang diterima tersebut karyawan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dengan layak, maka kemungkinan besar pikiran karyawan tersebut tidak akan terfokus pada pekerjaan yang dilakukannya. Sebaliknya, ia menjadi kurang semangat dalam bekerja dan akan berusaha mencari pekerjaan alternatif untuk menyelesaikan permasalahannya.

2. Kebutuhan keselamatan –merupakan kebutuhan karyawan terhadap adanya jaminan keamanan diri saat melakukan pekerjaannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa seorang karyawan membutuhkan asuransi terhadap kesehatan dan keselamatan dirinya selama bekerja. Apabila pekerjaan yang harus dilakukan cukup berbahaya dan tidak ada jaminan keselamatan diri, maka tentu saja karyawan akan melakukannya dengan setengah hati bahkan mungkin tidak bersedia melakukannya. Akibatnya, karyawan tidak bersikap loyal terhadap perusahaan.

3. Kebutuhan sosial –merupakan kebutuhan karyawan untuk dapat berinteraksi dan bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Maksudnya, seorang karyawan membutuhkan lingkungan kerja menyenangkan yang terdiri dari rekan-rekan kerja yang bersahabat dan bisa diajak bekerja sama. Dengan demikian, karyawan akan merasa nyaman dalam melakukan pekerjaannya dan dapat bersikap loyal terhadap perusahaan. Namun,umumnya keadaan yang terjadi pada saat ini malah sebaliknya. Karyawan merasa tidak nyaman dengan lingkungan kerjanya karena terlalu banyaknya tekanan dan persaingan tidak sehat. Tentu saja jika seseorang merasa tidak nyaman terhadap pekerjaannya, maka ia tidak akan mampu bekerja dengan maksimal. Sebaliknya, ia akan bekerja dalam keadaan terpaksa.

4. Kebutuhan esteem –merupakan kebutuhan karyawan untuk mendapatkan penghargaan atas pekerjaan yang dilakukannya. Bagaimanapun juga karyawan tetap adalah seorang manusia yang ingin dihargai, bukan direndahkan. Karyawan bukanlah sebuah mesin yang tidak memiliki perasaan. Karyawan ingin keberadaannya diakui dan keberhasilannya dihargai. Karena itu, hargailah setiap usaha dan kerja keras yang telah dilakukan karyawan untuk memajukan perusahaan. Jika perlu, berilah semacam bonus sebagai tanda penghargaan atas keberhasilannya. Sehingga, karyawan akan termotivasi untuk memberikan hasil kerja yang terbaik untuk perusahaan. Namun, kenyataan pada saat ini umumnya menunjukkan keadaan sebaliknya. Karyawan sering direndahkan dan diremehkan oleh pimpinan yang merasa dirinya lebih berkuasa di perusahaan. Akibatnya, karyawan akan merasa dirinya hanya sebagai pesuruh yang selalu direndahkan. Sehingga, ia tidak akan bersikap loyal terhadap perusahaan.

5. Kebutuhan realisasi diri –merupakan kebutuhan untuk mengekspresikan, mengembangkan, dan mengeksplorasi kemampuan diri yang dimiliki. Karyawan membutuhkan kesempatan untuk membuktikan dan memperlihatkan kemampuan yang dimilikinya. Dalam perusahaan, realisasi diri ini dapat diwujudkan apabila karyawan memiliki kesempatan dan diberi kepercayaan untuk melakukan pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Sehingga, ia akan bekerja sebaik mungkin untuk menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, realisasi diri ini dapat diwujudkan dengan melakukan kegiatan berdasarkan minat dan bakat yang dimiliki.
Apabila semua kebutuhan tersebut telah dapat terpenuhi, maka perusahaan akan memperoleh hasil kerja yang memuaskan dari para karyawannya.
Salah satu contoh perusahaan yang dapat dikatakan telah memenuhi semua kebutuhan karyawan di atas adalah Starbucks, sebuah perusahaan jasa penyedia minuman kopi.
Bayangkan usaha yang dilakukan Starbucks hanya menjual minuman kopi di sebuah tempat semacam restoran, tapi dalam waktu yang cukup singkat Starbucks yang awalnya tidak terlalu besar di AS dapat berkembang dengan begitu pesat. Sehingga, saat ini kita dapat menjumpai banyak kedai Starbucks di AS dan juga di negara-negara lain. Dan, salah satu kunci keberhasilannya yang begitu berperan adalah terpenuhinya hierarki kebutuhan semua karyawan. Karena itulah, karyawan bersikap loyal sehingga perusahaannya menjadi begitu berkembang.

Sumber=id.shvoong.com

Label:


Lebih lengkap........
posted by kang soem @ 08.17   0 comments
KOMITMEN & KONSISTEN
14 September 2008
Berupaya eksis menjadi diri sendiri dalam perubahan global

Perubahan global yang telah terjadi pada kehidupan akhir-akhir ini, mulai dirasakan oleh para praktisi perekonomian maupun kehidupan bersosial masyarakat.
Kebutuhan akan kehidupan yang sejahtera dan impian-impian yang memaksa seseorang untuk menghalalkan segala cara, mulai ditempuh untuk mencapai keinginan dengan cara yang instan.
Idealisme yang dulu begitu dijunjung tinggi, mulai berangsur luntur dan telah mencair karena tuntutan hidup yang semakin keras.
Hal ini, disebabkan oleh ketidak puasan akan sistem yang mulai menginjak-injak tata krama dan etika bersosial.
Seseorang yang telah bekerja dengan taat aturan, disiplin dan loyalitas tinggi terasa kosong dan tidak dihargai oleh sistem. Sehingga jenjang karier yang diharapkan makin menjauh dan tidak sesuai harapan.
Etika sosial yang seharusnya dijunjung untuk menghindari konflik kepentingan, kini mulai menyeruak akibat kepentingan kelompok-kelompok yang justru merusak sistem itu sendiri.
Sebagai contoh; sebuah departemen yang didalamnya terdiri dari “orang-orang kuat”, berusaha agar orang-orang disekelilingnya dapat menduduki kursi-kursi manajer yang seharusnya diperuntukkan bagi karyawan yang telah menyiapkan dirinya secara skill dan mental.
Hal inilah yang mengakibatkan banyak karyawan dalam departemen lain mulai merasa tersingkirkan, dan tidak dihargai kerja kerasnya. Dampak secara luas dari keputusan seperti ini akan menjadikan kelompok orang-orang yang tidak puas menjadi sebuah oposisi dalam sebuah organisasi.
Memposisikan menjadi oposisi dalam organisasi, akan memiliki dampak yang kurang baik bagi perjalanan organisasi itu sendiri dan yang lebih parah, kelompok orang-orang tersebut akan semakin suram jenjang kariernya.

MENJADI DIRI SENDIRI
Hal seperti diatas tentunya menjadi pilihan yang sulit bagi seseorang yang masih memiliki semangat untuk memperbaiki kondisinya. Tetap memiliki semangat kerja dan loyalitas terhadap tugas yang diembannya, sementara sistem dan kelompok orang-orang kuat masih bercokol ditampuk pimpinan (pembuat sistem), semakin menjadikan dirinya kerdil.
Namun, bagi individu yang tetap komitmen dan memiliki konsistensi berfikir dan bersikap, hal ini akan dirasakan sebagai sebuah proses pematangan untuk mencapai keinginannya.
Tapi... akan berapa lama hal ini berlangsung?
Ibarat seorang anak kecil yang akan memulai hari pertamanya masuk sekolah, apabila pada malam harinya dia sudah memimpikan untuk segera masuk sekolah, maka jam yang ditunggunya akan terasa lama. Tapi bagi individu yang tetap berorientasi proses, hal ini akan dijalaninya sebagai sebuah rutinitas.
Kelompok atau pemegang tampuk pimpinan akan merasakan bahwa seseorang dengan komitmennya serta konsistensinya bertindak lambat laun akan diperhatikan.

BERFIKIR KREATIF
Sejalan dengan sikap menjadi diri sendiri, hal yang cukup penting agar seseorang akan diperhatikan oleh yang lain, seorang individu harus pula berfikir kreatif dan mengembangkan dirinya agar dapat memiliki nilai lebih dibanding yang lainnya.
Bagaimana caranya?
Tetaplah berfikir bahwa pengembangan diri tidak hanya melulu didapat dari lingkungan kerja saja, namun memanfaatkan seluruh fasilitas yang ada, mencari sumber keilmuan lain yang mendukung kinerja, dan mengaplikasikan dalam rutintas, akan dapat menghasilkan nilai lebih bagi diri sendiri.

Label:


Lebih lengkap........
posted by kang soem @ 19.47   0 comments
KANGSOEM

ARTIKEL
SIMPANAN
Powered by

BLOGGER


© 2008 KangSoem.blogspot Blogspot Template by Isnaini Dot Com